JAKARTA- Sosok Umar bin Khattab yang memiliki jiwa
kepemimpinan teladan sangat dikagumi banyak orang. Salah satunya Marissa
Haque yang sangat mengagumi sosok Umar.
"Umar yang terlihat
garang, ketika dibacakan ayat-ayat Alquran langsung luluh hatinya. Itu
yang namanya hidayah kan," kata Marrisa saat ditemui di Kampus UIN,
Ciputat, Tangerang Selatan.
Begitu juga dalam kehiduan
keluarganya, Marrisa dan Ikang Fawzi mencoba mengaplikasikan ajaran yang
baik untuk diterapkan dalam keluargannya.
"Ikang dan saya
sebagai wakil imam di rumah, kita lead by example. Apa yang kita lakukan
sesuai dengan apa yang kita katakan sebagai manusia yang penuh dengan
kesalahan," ujarnya.
(rik)
"Marissa Haque Tiru Keteladanan Umar bin Khattab": okezone.com
Diam-diam istri pesepakbola nasional Christian Gonzales, Eva Gonzales, mengagumi pasangan artis senior Ikang Fawzi dan Marissa Haque. Eva pun mengundang artis idolanya itu untuk menghadiri acara ulang tahun putri pertamanya, Amanda Gonzales, yang ke-17. Eva mengaku tidak menyangka jika pasangan yang kini lebih aktif bergelut di dunia politik itu mau hadir di pesta ulang tahun anaknya.
“Ini idola saya sama suami saya. Ini bener-bener reunian dari saya kecil mereka bener-bener udah di langit. Jadi mana mungkin kenal sama saya,” puji Eva Gonzales kepada pasangan yang kini masih tampak mesra, seperti ditayangkan Status Selebritis di SCTV, Sabtu (13/8).
Ternyata, Ikang dan Marissa juga nge-fans dengan perfoma Christian Gonzales di lapangan. Baik Ikang maupun Marissa pun ikut memuji idolanya itu. “Kita tuh seneng banget sama Christian Gonzales apalagi waktu kemaren membela Indonesia. Di saat Indonesia tengah lesuh, Gonzales mampu mengangkat kembali nama timnas Indonesia,” puji pria yang bernama lengkap Ahmad Zulfikar Fawzi.(APY/ANS)
“Keluarga Gonzales Timnas yang Sangat Ramah: Marissa Haque & Ikang Fawzi”
Senin, 11/04/2011 18:07 WIB Ramdhania El Hida - detikFinance
Jakarta - Pemerintah tetap komitmen terhadap perdagangan bebas ASEAN-China Free Trade Agremeent (ACFTA). Walaupun daya saing produk Indonesia kian tergerus China, yang juga berdagang secara tidak fair.
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan berdasar temuan tim independen Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) dan Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) terungkap bahwa terdapat perdagangan yang timpang sebagai imbas dari penerapan kebijakan ACFTA. Namun, kata Mari, pemerintah telah menanggulangi ketidakseimbangan tersebut melalui penerapan beberapa kebijakan.
"Temuannya menunjukkan bahwa ada perdagangan yang tidak fair makanya itu kita kenakan bea masuk tambahan, itu namanya bea masuk antidumping, ada juga namanya bea masuk safeguard, namanya bea masuk penyelamatan," ujarnya ketika ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (11/4/2011).
Meskipun Mari menyatakan komitmen kebijakan ACFTA akan tetap dijalankan. Pasalnya, kebijakan tersebut juga mempunyai keuntungan seperti meningkatnya investasi China di Indonesia.
"Iya masih komit, kita mengatasi masalah daya saing di dalam negeri, untuk mengatasi berbagai hal, ada yang infrastruktur ada masalah bahan baku. Semua itu harus kita atasi dan pada saat sama kita sudah punya kesepakatan bilateral dengan China untuk menjaga supaya hubungan kita itu win-win," tegasnya.
Hal senada juga disampaikan Menko Perekonomian Hatta Rajasa, yang mengatakan pemerintah akan tetap menjalankan kesepakatan yang telah ada dengan China.
"Yang paling penting buat kita itu bagaimana agar balance dan tidak merugikan kita. Itu PR (pekerjaan rumah) kita, kita kerjakan, meningkatkan capacity building dan meningkatkan daya saing. Tapi juga China kita minta menjaga balance of trade-nya. ASEAN iya, kita harus komit dengan ASEAN. Ini dalam kerangka ASEAN, bukan bilateral. Tapi kita juga tidak ingin industri kita mengalami gangguan, apalagi sampai mengalami kebangkrutan atau apapun sesuai laporan perindustrian," ujarnya.
Sebagai informasi, sebanyak tujuh jenis produk industri yakni besi dan baja, tekstil dan produk tekstil (TPT), kosmetika, mainan anak, alas kaki, lampu, dan loudspeaker diusulkan untuk dievaluasi penerapannya pasca implementasi perjanjian perdagangan bebas ACFTA.
Dirjen Basis Industri Manufaktur (BIM) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Panggah Susanto mengatakan, dari tujuh produk tersebut, terdapat lima jenis produk utama yang mengalami lonjakan impor yang signifikan. Kelima produk itu adalah besi dan baja, TPT, mainan anak, kosmetika, dan alas kaki.
Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), selama Februari 2011 perdagangan Indonesia dengan China juga mencatat defisit US$ 324,5 juta. Defisit neraca perdagangan nonmigas dengan China pada periode Januari-Oktober 2010 mencapai US$ 5,3 miliar. Angka itu mengalami peningkatan sebesar US$ 1,4 miliar dibandingkan periode yang sama tahun 2009 senilai US$ 3,9 miliar.
Ferry Salim lahir di Palembang, Sumatera Selatan, 8 Januari 1967. Ia adalah seorang pemain film dan sinetron Indonesia.
Ferry menikah dengan Merry Prakasa, gadis yang telah dipacarinya selama 10 tahun, pada tahun 1995. Dari pernikahannya, Ferry dikaruniai 2 anak: Brandon Nicholas Salim dan Brenda Nabila Salim.
Biografi
Namanya melejit sejak membintangi Ca bau Kan. Beranjak dari model saat SMA, saat ini Ferry telah bermain dilebih dari 20 judul sinetron dan 2 film (Ca Bau Kan dan Koper).
Meski sejak SMA Ferry telah berkecimpung di dunia model, namun Ferry mampu menyelesaikan pendidikannya. Ferry bahkan menyandang gelar sarjana ekonomi. Akhir tahun 1990 Ferry melanjutkan sekolahnya di Amerika Serikat. Sepulangnya dari sana Ferry menggeluti lagi dunia model yang sempat ditinggalkannya.
Tawaran bermain sinetron pertama kali datang dari Marissa Haque pada tahun 1996. Dalam sinetron "Kembang Setaman", Ferry bermain bersama Ida Iasha. Berawal dari sinetron inilah, Ferry mulai kebanjiran 'job'. Sampai akhirnya pada tahun 2002, Ferry bersama Lola Amaria, Alex Komang, dan Niniek L. Karim membintangi film Ca Bau Kan disutradarai oleh NIa Dinata. Dalam film yang diangkat dari novel karangan Remy Silado ini, Ferry berperan sebagai Tan Peng Liang. Peran itulah yang membawa Ferry masuk nominasi The Best Actor Festival Film Asia Pasifik dan aktor favorit saat Festival Film Bali.
Pada tahun 2004, Ferry Salim ditunjuk oleh UNICEF (United Nations Children's Fund) sebagai duta nasional untuk Indonesia. Menjadi duta UNICEF, Ferry kini sibuk dengan urusan imunisasi, kesehatan balita, dan rencana untuk membuka toko UNICEF yang akan menjual beraneka produk UNICEF seperti kertas surat, amplop, alat tulis, dan boneka.
Baru kusadari beberapa hari terakhir ini ketika seorang teman yang dekat di hatiku dari FH UGM mengirimiku sms yang berbunyi: "Mbak Icha sayang...kelihatannya para alumni dari Unika Atmajaya Jakarta itu punya ciri yang sama deh yaitu suka menulis!"
Hhmmm...iya juga ya?
Namun saya menyukai dunia tulis-menulis jauh sebelum menapaki kaki mengambil S2 ku yang pertama di kampus tersebut. Tapi....memang, setelah gabung dalam pembelajaran di kampus tersebut, kemampuan dan kesenanganku menulis menjadi semakin terasah. Khususnya karena Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan di sini terkenal salah satu yang terbaik di Indonesia, sayapun mengambil S2 dari jurusan LTBI singkatan dari Linguistik Terapan Bahasa Inggris.
Tak hanya diriku Dari LTBI, ternyata adik kelasku dari FE (Fakultas Ekonomi) bernama Angelina Sondakh jua sangat produksitf sekarang dalam dunia penulisa buku. Memang banyak yang memcingkan mata ketika tulisannya melulu soal keluarga dan dirinya. Tapi saya pikir mereka yang sinis itu hanya iri kepada Angie yang cerdas serta produktif!
Iri sebenarnya hanyalah pertanda dari tak mampu...hehe... Jadi, kalau mereka iri jawabannya sebenarnya hanya satu yaitu "menulis juga dong!" Beradu karya melalui budaya menulis pasti akan positif. Daya nalar serta kreasi sportif pasti akan mengemuka, dan dampaknya akan menepis hal negatif lainnya. Sehingga tanpa ragu-ragu saya berani mengajak anda semua untuk bergabung bersama dalam dunia positif yang saya sekeluarga sukai, yaitu: "Ayo Memulis!"
Cantiknya Bella Fawzi, Siaran di Global TV dengan Cheongsam, May 2011
Bella Fawzi Sulung Kami Cukup Lancar Berbahasa Mandarin
Jurusannya sewaktu kuliah di FIB UI adalah Sastra Inggris, namun Bella memang sangat berbakat bahasa, dia masih mengambil mata kuliah pilihan Bahasa China atau Mandarin atau Sinologi disebutnya. Kami berdua sering tersenyum sendiri menyaksikan betapa 'lahap'nya Bella mengunyah buku-buku tentang budaya Cina kuno maupun modern. Gaya busana serta kehidupan sehari-hari mereka.
08 Jan 2011 11:56:27| Opo Jarene | Penulis : Ayu Citra
Surabaya - "Ni hao". Sapa Artis berdarah Madura, Marissa Haque menyapa ratusan calon pebisnis sekaligus membekali tips sukses mengarungi dunia usaha 2011 di Surabaya.
Perempuan berjilbab dan istri artis Ikang Fawzi tersebut menyebutkan, salah satu kunci keberhasilan menjalani bisnis adalah kemampuan menguasai bahasa terkini.
"Jangan hanya Bahasa Inggris dan Indonesia yang dikuasai tetapi Bahasa Mandarin," ujarnya.
Kini, ungkap Icha sapaan akrab Marissa, Bahasa Mandarin telah menjadi bahasa wajib ketiga di pasar internasional. Untuk itu, ada baiknya para generasi penerus bangsa saat ini mulai mempelajarinya.
"Namun, idealnya pembelajaran tersebut dilakukan sedini mungkin tetapi bagi mereka yang sudah dewasa tak ada kata terlambat untuk belajar," katanya.
Di sisi lain, ia menyebutkan, proses belajar Bahasa Mandarin lebih mudah ketika mereka adalah Warga Negara Indonesia keturunan China.
"Apalagi, pengajarnya para orang tua yang lama memakai Bahasa Mandarin sehingga pelafalan kata per katanya fasih," katanya.
Kalau buat masyarakat Indonesia nonketurunan China, terang dia, ada kemungkinan lafal katanya kurang mirip. Akan tetapi, ia yakin lambat laun mereka dapat menirukannya.
"Asal mau terbiasa melatih pengucapan kata dengan benar, mereka akan memiliki kemampuan bahasa yang lebih baik," katanya.
Kasus lain, tambah dia, sekarang justru terjadi degradasi budaya akibatnya orang tua Warga Negara Indonesia keturunan China jarang mengajarkan anaknya Bahasa Mandarin.
"Tak jarang anak mereka sendiri enggan mempelajarinya karena menganggap Bahasa Mandarin rumit dan lebih suka memakai bahasa 'sleng'," kata perempuan yang sering datang ke Surabaya untuk bersilaturahmi ke rumah saudara di Jalan Ronggolawe.
Ini pertanyaan yang kalo gak jadi yang pertama akan jadi pertanyaan kedua yang ditanyakan orang yang mau belajar ke Cina. Berapa biayanya? Aku selalu jawab: tergantung…. hehehe… Tergantung mo studi ke mana, berapa lama, mo tinggal di tempat kayak gimana.. Jawaban yang membuat orang yang nanya garuk-garuk kepala.
Oke. Sebenarnya maksud mereka adalah mereka pengen punya gambaran kasar tentang biaya yang perlu mereka keluarkan per semesternya.. Ini aku kasih info.. tapi peringatan dulu ya.. ini garis besar aja dan tentunya setiap saat info ini bisa tidak sesuai dengan keadaan di lapangan. Setidaknya sekarang ini (sepengetahuanku…) ini keadaannya ….
Secara umum biaya studi (program bahasa Mandarin) di Cina tidak berbeda dengan studi di Indo. Ada beberapa biaya yang musti kita bayar :
Pertama, biaya studi. Kita bisa pilih program biasa (4 jam sehari) atau program intensif (6 jam sehari). Untuk program biasa biayanya sekitar 8500 RMB – 12000 RMB per semester. (kalikan saja dengan kurs sekarang ini sekitar 1375 rupiah untuk 1 RMB). Program intensif biayanya pastinya lebih gede yaitu sebesar: 18000 – 20000 RMB per semester nya…
Kedua, biaya tempat tinggal. Kebanyakan alan memilih tinggal di dormitory alias asrama. Disini kita juga bisa milih. Kalo mau murah bisa pilih sekamar berdua alias dobel. Tapi kalo pengen privacy kita bisa memilih kamar sendiri alias single. Untuk kamar dobel biaya sekitar 40 – 80 RMB per harinya. (jangan lupa dikalikan dengan 140 hari, jumlah hari per semesternya). Sedangkan yang pengen menyendiri perlu bayar sekitar 105 – 130 per harinya. Yang wajar sih pilih kamar yang harganya at least 60 per harinya… di bawah itu fasilitas dan kebersihan menyedihkan mbo….
Ketiga, biaya hidup. Ini sih gak beda jauh dengan di Indonesia. Sekitar antara 20 – 50 RMB per hari gitu deh.. tentunya dengan catatan.. jangan ngopi di Starbucks tiap ari…
Keempat, biaya pendaftaran. Yang hanya sekali kita bayar… sebesar 400 – 700 RMB tergantung universitasnya. Biaya ini aja.. jauh lebih murah daripada biaya daftar univ di indo ya..
Dan terakhir tentunya, jangan lupa, biaya perjalanan ke Cina. (bisa gratis kalo mau berenang ke Cina… hehehe…) sebagai gambaran aja.. tiket Cathay Pacific dari Jakarta ke Beijing untuk tiket bolak-balik dengan jangka waktu setaon berkisar sekitar 900an US dollar.
Nah sudah kan itung-itungan nya. Pengen belajar Mandarin ke Cina..???? Mulai nabung atau mulai merencanakan strategi nyenengin bokap nyokap biar di biayai studi ke Cina
Kebanyakan orang Indo akan memilih salah satu dari tiga kota ini kalo mereka mo belajar Mandarin di Cina : Beijing, Shanghai, Guangzhou. Post ini mari kita lihat tentang Beijing…
Ibukota Cina ini dipilih banyakorang indo karena satu hal : Bahasa Mandarin dipakai secara luas di Beijing. Artinya kebanyakan orang bisa ngomong Mandarin. Mustinya dong ya… namanya juga ibukota. Jadi kemana-kemana, ama tukang sayur, ama sopir bis, ama SPG di mal semuanya bisa diajak ngomong mandarin. Jadinya kita bisa cepet lancar ngomong mandarin. Bandingkan dengan Shanghai, dimana bahasa Mandarin hanya dijumpai di Kampus, sedangkan di luaran penduduknya lebih demen pake dialek lain…
Alasan lain mengapa orang indo memilih Beijing sebagai kota tujuan studi, juga supaya bisa melihat-lihat objek wisata budaya seperti Great Wall, Forbidden City dan lain-lain yang adanya di Beijing. Sekalian belajar dan jalan-jalan gitu…
Hanya ada satu masalah di Beijing. Cuacanya lumayan tidak bersahabat. Suhu di Beijing bisa sangat dingin di musim dingin (bisa sampai minus 20 derajat) dan bisa sangat panas di musim panas (bisa mencapai 40 derajat). Satu keluhan lagi, bagi kebanyakan orang Indo, makanan di Beijing mungkin terlalu berminyak… Segala ayam goreng yang kita pesan datang dengan bonus lapisan minyak di piring… (perlu punya banyak akal kalo mau menjalankan program diet… hehehe… )
Di Beijing ada satu universitas yang mengkhususkan diri dalam bidang bahasa dan budaya, yang jadi favorit orang indo yang memilih kota ini sebagai tujuan studi namanya BLCU (Beijing Language and Culture University) lihat di sini. Univ ini boleh dibilang market leader deh kalo masalah belajar bahasa Mandarin di Beijing. Meskipun… namanya ibukota ya… Beijing juga menawarkan pilihan beberapa universitas lain yang juga menyediakan pilihan program studi bahasa Mandarin.
Walaupun ibukota, biaya hidup di Beijing tidak berbeda dengan kota-kota besar lain di Cina. Jadi jangan kuatir tongpes karena memilih studi di kota ini…
Beijing… recommended bagi yang pengen cepat pintar Mandarin dalam waktu singkat.. cuman.. jangan lupa siapin baju tebal-tebal biar bisa survive musim dingin-nya Beijing..